productive_muslim_by_aditpratama1-d359cs1 Kata “produktif” dalam Kamus Bahasa Indonesia diartikan bersifat atau mampu menghasilkan (dalam jumlah besar). Adapun lawan katanya adalah “kontraproduktif” yang diartikan bersifat tidak (mampu) menghasilkan; tidak menguntungkan. Jika kata “produktif” disandingkan dengan kata “muslim” sebagai subyek maka “muslim produktif” bisa diartikan sebagai seorang beragama Islam yang memiliki sifat atau mampu menghasilkan—kebaikan—dalam jumlah besar. “Muslim Produktif”, dapat dijadikan menjadi predikat positif bagi setiap muslim yang benar-benar mampu menghasilkan sesuatu yang positif dalam jumlah besar terutama untuk kemuliaan dirinya dalam berislam dan atau untuk sebanyak mungkin kaum muslimin. Atau, muslim yang produktif adalah seorang muslim yang aktivitasnya bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

Konteks muslim produktif ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW. Ibnu Umar meriwayatkan bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah? Dan amal apakah yang paling dicintai Allah SWT?” Rasulullah menjawab,“Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menunaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beri’tikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (HR. Thabrani)

Demikianlah, seorang muslim dituntut untuk selalu aktif melaksanakan berbagai amalan yang dapat mengantarkannya masuk ke dalam surga. Artinya, hati seorang muslim harus selalu dalam kondisi beriman sehingga dapat melaksanakan berbagai ibadah kepada Rabb-nya dalam rangka bertakwa. Jika tidak terisi iman maka hati akan kosong. Pada saat inilah musuh abadi manusia (baca: setan) masuk dan membisikkan hasutannya agar seorang muslim berbuat amal kemungkaran. Maka jadilah dia muslim yang kontraproduktif.Dia akan berbuat mungkar atau sama sekali tidak tergerak untuk melakukan amal kebaikan sekecil apapun.

Menjadi seorang muslim berarti memilih untuk menjadi orang yang produktif dalam hal amal dan ibadah. Tidak hanya ibadah yang difardhukan, bahkan semua aktivitas seorang muslim bisa menjadi ibadah yang diterima, asalkan ia memenuhi syarat-syaratnya, yaitu ikhlas karena Allah SWT dan sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad SAW.  Bekerja, kuliah, bergaul, berkeluarga, bermasyarakat, bahkan hingga makan dan tidurnya seorang muslim pun bisa jadi ibadah. Dengan demikian, seorang muslim wajib mencari tahu dari sumber-sumber ilmu yang sahih bagaimana semua itu bisa menjadi ibadah (berpahala). Meski demikian, manusia memiliki sifat lalai dan lupa, yaitu suatu kondisi di mana kadar keimanannya turun. Sebabnya bisa bermacam-macam, bisa dari diri sendiri atau pengaruh dari luar. Untuk itu, diperlukan suatu usaha untuk menjaga agar kondisi keimanan itu tetap naik atau setidak-tidaknya stabil di “grade” yang atas (istiqamah) sehingga seorang muslim tetap produktif dalam beramal ibadah.

Salah satu cara untuk mendeteksi kualitas/kadar keimanan adalah dengan selalu mengamatinya setiap waktu. Caranya adalah dengan membuat sebuah “Tabel Amal Harian” yang dapat menunjukkan produktivitas dalam amal ibadah. Tabel bisa dibuat secara sederhana untuk ibadah-ibadah yang fardhu saja, atau detil meliputi ibadah tambahan yang sunah dari waktu ke waktu. Hasil akhir dari pengamatan ini merupakankesimpulan apakah amalanhari ini lebih baik dari hari kemarin atau malah sebaliknya. Pengamatan ini harus dilakukan setiap hari, dan jadikan malam sebelum tidur untuk mengevaluasi amalan sehari semalam yang sudah berlalu. Istighfari jika ada amalan yang buruk atau jika ada kewajiban ibadah yang dilalaikan. Jadikan kebiasaan sebelum tidur untuk berdoa agar diberi petunjuk dan kekuatan untuk memperbaiki amal di esok hari, dan agar dijauhkan dari hal-hal berbahaya yang dapat melemahkan iman.

Kemudian, untuk menjaga agar tetap istiqamah dan produktif dalam amal ibadah di antara kiatnya adalah banyak membaca kisah-kisah orang saleh; rutin membaca Al-Qur’an dan hadits Nabi SAW berikut maknanya; berteman dengan orang-orang yang saleh; senantiasa berdoa agar diberi petunjuk dan dijauhkan dari godaan setan;selalu menjaga kebersihan niat, mengawali setiap aktivitas dengan basmalah dan mengakhirinya dengan hamdalah; dan memperbanyak zikir agar selalu ingat kepada Allah SWT.

 

So, are you ready to be a Productive Muslim? (DRH)